Seseorang yang mempunyai sifat pemarah (anger) biasanya bisa marah hanya karena hal sepele yang biasanya tidak membuat orang lain marah.
Ada 20 persen orang tergolong di sini. Seorang peneliti gigih, dokter Redford, mendapatkan bahwa orang yang marah sedang memasukkan racun arsenik ke dalam tubuhnya. Pelan-pelan akan merusak sistem tubuhnya sendiri.
Sebenarnya inti dari kemarahan adalah adanya rasa benci sebab apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Teman dari sifat pemarah adalah adalah sikap yang sinis dan perilaku yang agresif.
Si pemarah merasa dirinyalah yang paling baik dan benar. Ada pula ahli yang mengatakan sikap pemarah ini adalah kebiasaan. Sebab sering dipenuhi kehendaknya jika ia “meledak marah” ketika kecil, jadi berlanjut hingga dewasa.
Redford, yang juga pemarah, tahu betul dampak negatifnya, terutama untuk keluarganya, orang-orang yang paling dekat dengan dia. Karena ingin menyelamatkan keluarganya juga ingin bebas dari nafsu merugikan itu, dia teliti seluk-beluk marah.
Beberapa sarannya untuk mengurangi marah adalah
1. Buatlah peta kebencian
Untuk lebih mengerti diri sendiri dan kemarahannya, catatlah dengan teliti tiap hari pikiran dan perasaan marah yang muncul. Dari dongkol kecil-kecilan sampai kemarahan yang hebat. Catatlah kapan, mengapa, bagaimana pikiran dan perasaannya serta apa saja yang menimbulkan amarah itu. Catatan ini perlu sebagai pola, agar tampak soal apa saja yang menjadi biang kerok kemarahannya, kapan terjadinya, dan di mana. Dan apa akibat kemarahannya. Tiap malam catatan ini dinilai kembali dan dipikirkan cara apa yang lebih baik dilakukan, dan adakah kemajuan jika diperbaiki.
2 Uji kembali pikiran yang menimbulkan marah
Kalau Anda memaki-maki di sepanjang jalan yang macet, hasilnya jalanan tetap macet. Yang bertambah adalah “racun arsenik” dalam tubuh Anda. Tambah besar dan lama marahnya tambah berat dampak negatif buat diri Anda, juga buat orang yang duduk di samping Anda.
Ujilah pikiran dan perasaan Anda, buat apa marah-marah di jalan macet, bukankah lebih baik memutar kaset dan ikut bernyanyi? Buat apa anak dimarahi sebab bajunya kena saus tomat. Itu kan lumrah, namanya juga anak kecil. Untung sendoknya tidak tertelan.
3. Stop
Ini adalah model Ornstein. Kalau merasa darah sudah naik ke kepala, sebutlah: Stop. Perlahan-lahan saja kalau di restoran, boleh keras kalau lagi sendiri. Ini akan mengingatkan si pemarah untuk banting setir, jangan teruskan jalan penuh ranjau itu. Lalu alihkan pikiran ke yang lebih produktif. Daripada memarahi anak yang akan ujian, lebih baik doakan agar ia berhasil. Daripada melotot dan teriak karena rumah harum karena kue, lebih baik mencoba kue itu dan peluklah sang istri yang rajin itu.
4. Alihkan perhatian Anda
Thomas Jefferson bilang, bila Anda marah berhitunglah dari satu sampai sepuluh sebelum bercakap. Kalau sedang marah sekali, hitung sampai seratus. Kalau benci pada tokoh politik yang sedang kampanye di layar televisi dan kuping terasa panas karena marah, alihkan saja televisi ke saluran lain. Atau berdirilah, makan jeruk dulu di meja makan.
5 Relaksasi
Cari posisi beristirahat yang enak, tarik napas panjang yang dalam. Tambah banyak tambah baik dan pikirkan hal-hal yang menyenangkan.
Atau sebut kata: “tenang-tenang-tenang” berulang kali dengan tarikan napas panjang. Bagi yang religius lebih mudah, sebab dapat berdoa atau shalat, ini sangat menenangkan.
6. Belajar mendengarkan
Kekurangan dari orang pemarah adalah sangat sukar untuk mendengarkan pendapat orang lain sebab ia merasa pikiran dan pendapatnya adalah yang paling baik. Sikapnya yang sinis dan siap menyerang tiap pendapat orang lain yang dicurigai sebagai buruk, membuat dia “tuli” pada kebenaran lawan bicaranya.
Marah (angry) boleh, tetapi jangan menjadi orang yang mempunyai sifat pemarah (anger).
Tags: anger management, marah, mengatasi marah










December 8th, 2009 at 15:26
tips yang bagus..
saya sering marah entah apa yang jadi penyebabnya saya berusaha untuk mengendalikan kemarahan saya dan selalu mencoba tenang dengan adanya tips ini saya bisa terbantu untuk bisa mengurangi kemarahan saya..
terimakasih
February 27th, 2010 at 12:02
thanx…ini cukup membantu saya mengingat saya sering berlaku agresif jika sedang marah….dan yang sangat disayangkan adalah orang2 terdekat saya yg sering menjadi korban karena kemarahan saya yg cenderung lost control. tapi ada pepatah yg mengatakan “anger is a gift”.