01
Aug
Author: drQ // Category:
Daily Activities,
Spiritual,
medis
Kemarin saya kedatangan pasien lagi ke UGD RS AMC, wanita, 29 tahun, dengan diagnosa open fracture tibia et fibula dextra 1/3 distal displaced fragmented . Masalahnya adalah dia sudah mendapat luka patah tulang itu dari hari senin, jadi dihitung-hitung sudah 4 hari. Sang suami bercerita kepada saya.Pada awalnya sang istri di bawa ke RSHS karena beberapa waktu lalu salah seorang temannya di bawa ke sana saat patah tulang. Kemudian karena merasa mendapatkan pelayanan yang lama disana akhirnya dengan diberi sasus dari kiri kanan akhirnya pasien dibawa ke dukun tulang. Di sana pasien hanya di bungkus kassa dan kapas kemudian diimobilisasi dengan spalk kecil dan ditutup dengan elastic verband. Kemudian ketika sampai di UGD RS AMC saya bertanya ke si Bapak, beliau bilang katanya lagi panik jadi tidak sempat berfikir panjang. Setelah 4 hari baru setelah mendapat dorongan dari pihak perusahaan bekerja untuk dilakukan tindakan medis yang baik, baru si bapak mau dirawat di RS AMC Cileunyi. Akhirnya kami pun merawat si ibu dengan pemberian antibiotik dan analgetik setelah itu melihat respon dari pengobatan untuk diputuskan kapan akan dilakukan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). Sambil menjalankan perawatan di UGD, si Bapak pun bertanya ke saya tentang dukun tulang. Saya hanya berkata asal patahnya sederhana, tertutup (tidak ada luka sobek), daerahnya pun di tulang panjang itu tidak perlu dibawa kemana-mana, asal mau istirahat dan imobilisasi pasti tulang akan menyambung (union). Masalahnya apakah alignmentnya baik atau tidak? oleh karena itu serahkanlah pada ahlinya yaitu dokter spesialis ortopedi dan traumatologi (dr. SpOT). Saya teringat hadist yang bunyinya begini “Apabila sesuatu urusan itu diserahkan bukan kepada ahlinya, maka nantikanlah kehancuran” - Hadith riwayat al-Bukhari.
04
Jul
Author: drQ // Category:
Daily Activities,
medis

Kemarin sore saya kedatangan pasien anak laki-laki usia 5 tahun dengan keluhan nyeri di tungkai bawah kiri karena tertabrak motor. Pasien datang dalam keadaan sadar dan setelah dilakukan pemeriksaan fisik ternyata hanya ditemukan luka ekskoriasi di parietal sinistra dan nyeri di daerah tibia kiri 1/3 distal. Setelah diberikan perawatan luka akhirnya dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi untuk mengetahui lebih lanjut kondisi kaki kirinya tersebut.
Hasil xray menunjukkan ada garis fraktur di daerah 1/3 distal tibia sinistra. Setelah dilakukan informed consent kepada keluarga pasien akhirnya disepakati untuk dilakukan casting di daerah fraktur tersebut. Keluarga pasien sudah khawatir kalau penatalaksanaannya harus dilakukan dimeja operasi.Berhubung dokter spesialis ortopedinya sedang melakukan operasi, akhirnya ada penundaan casting hingga 2 jam lebih. Keluarga pasienpun setuju untuk menunggu hingga operasi selesai di UGD RS AMC. Tak lama setelah itu datanglah 3 orang yang masih famili dari pasien tersebut. Dari kejauhan tampak mereka melakukan pembicaraan yang serius. Akhirnya perwakilan dari mereka menghampiri saya, dan mereka berkata “Dok, maaf nampaknya pasien ini mau saya bawa pulang karena mau saya bawa ke dukun tulang.”, lalu saya menimpali begini “Pak, kenapa dibawa ke dukun tulang ?” jawabnya “Kemarin saudara saya dibawa ke dukun tulang, akhirnya bisa sembuh dengan baik. Jadi saya mau bawa anak itu ke dukun itu biar sembuh.” Saya cuma bisa tersenyum dan meminta agar perwakilan keluarganya mengisi surat keterangan untuk pulang paksa. Akhirnya pasien itupun melenggang keluar dengan tenangnya. Setelah operasi selesai, dr. Maggie SpOT pun bertanya “Mana pasiennya?”, saya jawab “ke bengkel dok..”. Beliaupun hanya bisa tersenyum
Permasalahannya adalah ternyate pengguna dukun tulang tidak hanya masyarakat awam, tapi seorang tenaga kesehatan selevel dokter pun masih ada yang menggunakan jasa dukun tulang. Bahkan lebih parahnya lagi ada pasien yang di”rujuk” ke dukun tulang dari sebuah rumah sakit dengan menggunakan ambulans. Sedihkan…? Apa kata dunia?