Sore ini saya kedatangan pasien bayi usia 3 hari dalam kondisi pucat, mottled skin dan sesak nafas berat. Bayi diantar oleh sang nenek dan bidan di dekat rumahnya. Menurut bidan, saat si Ibu kontrol post partum dia masih melihat bayi itu baik-baik saja, tapi setengah jam kemudian si bayi tampak sesak dan pucat. Langsung saja anak itu dibawa ke UGD RS AMC. Dugaan saya, paru-parunya kemasukan susu yang diberikan via sendok atau si bayi muntah tapi tidak terperhatikan oleh yang mengasuhnya sehingga cairan muntahnya masuk ke saluran pernafasan.Setelah dilakukan ini itu..sampai saya dan teman-teman stress karena akses venanya susah. Setelah berhasil terpasang IV catheter,dimasukanlah antibiotik dan lain-lain.Selama prosess observasi ternyata kondisinya memburuk. Sampai akhirnya nafas si bayi agonal sehingga harus diintubasi karena respiratory failure dan harus dirujuk ke NICU karena saat ini di rumah sakit ini belum tersedia. Tetapi setelah ditelfon rumah sakitnya, pesan pertama yang keluar adalah harus membayar uang DP about 10 juta rupiah. Setelah saya lakukan informed consent dari awal sampai akhir,kontan saja orang tau bayi tersebut langsung shock. Akhirnya hanya bisa berkata, “Dok, maksimalkan saja disini, kalo Tuhan berkehendak lain ya bagaimana lagi.” Akhirnya bayi itu menghembuskan nafas terakhir setelah resusitasi dihentikan….
Read more…
Kemarin sore saya kedatangan pasien anak laki-laki usia 5 tahun dengan keluhan nyeri di tungkai bawah kiri karena tertabrak motor. Pasien datang dalam keadaan sadar dan setelah dilakukan pemeriksaan fisik ternyata hanya ditemukan luka ekskoriasi di parietal sinistra dan nyeri di daerah tibia kiri 1/3 distal. Setelah diberikan perawatan luka akhirnya dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi untuk mengetahui lebih lanjut kondisi kaki kirinya tersebut.
Hasil xray menunjukkan ada garis fraktur di daerah 1/3 distal tibia sinistra. Setelah dilakukan informed consent kepada keluarga pasien akhirnya disepakati untuk dilakukan casting di daerah fraktur tersebut. Keluarga pasien sudah khawatir kalau penatalaksanaannya harus dilakukan dimeja operasi.Berhubung dokter spesialis ortopedinya sedang melakukan operasi, akhirnya ada penundaan casting hingga 2 jam lebih. Keluarga pasienpun setuju untuk menunggu hingga operasi selesai di UGD RS AMC. Tak lama setelah itu datanglah 3 orang yang masih famili dari pasien tersebut. Dari kejauhan tampak mereka melakukan pembicaraan yang serius. Akhirnya perwakilan dari mereka menghampiri saya, dan mereka berkata “Dok, maaf nampaknya pasien ini mau saya bawa pulang karena mau saya bawa ke dukun tulang.”, lalu saya menimpali begini “Pak, kenapa dibawa ke dukun tulang ?” jawabnya “Kemarin saudara saya dibawa ke dukun tulang, akhirnya bisa sembuh dengan baik. Jadi saya mau bawa anak itu ke dukun itu biar sembuh.” Saya cuma bisa tersenyum dan meminta agar perwakilan keluarganya mengisi surat keterangan untuk pulang paksa. Akhirnya pasien itupun melenggang keluar dengan tenangnya. Setelah operasi selesai, dr. Maggie SpOT pun bertanya “Mana pasiennya?”, saya jawab “ke bengkel dok..”. Beliaupun hanya bisa tersenyum
Permasalahannya adalah ternyate pengguna dukun tulang tidak hanya masyarakat awam, tapi seorang tenaga kesehatan selevel dokter pun masih ada yang menggunakan jasa dukun tulang. Bahkan lebih parahnya lagi ada pasien yang di”rujuk” ke dukun tulang dari sebuah rumah sakit dengan menggunakan ambulans. Sedihkan…? Apa kata dunia?









