23 Juni 2008 pelatihan DOTS (Direct Observed and Treatment Shortcourse) dibuka di Hotel dan Restoran Sindang Reret. Dihadiri oleh 50 orang peserta yang didatangkan dari seluruh Jawa Barat. Terdiri dari dokter dan perawat.Ada hal yang tidak biasa hari itu terjadi. Pertama udah sekian lama saya tidak pernah ikut test tertulis. Pada hari itu diadakan pre-test untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan tenaga medis mengenai program pemerintah mengenai TBC. Tapi alhamdulillah bisa lancar dikerjakan walaupun ada beberapa yang ragu-ragu jawabannya.Entah gara-gara hawa dingin jadi otak saya ikut beku sehingga tidak lancar mengerjakan pre test. Tapi tidak apa-apa yang penting nanti post testnya lebih baik dari pre test.
Nah, yang bikin aneh berikutnya adalah sambutan dari Ka Din Kes Jawa Barat, dr. Hanny Rono, SpOG, MM…Tidak seperti kebanyakan pejabat lainnya yang datang untuk memberi sambutan, beliau lebih banyak berbincang tentang pemikiran dan perjalanan spritualnya. Beliau datang “sedikit” terlambat dari jadwal yang telah ditentukan. Dengan mengenakan kaus dan dilapis jaket hitam dan juga tak lupa dengan mengenakan pecinya, beliau bergegas ke panggung dan menggapai mikrofon. Pertama kali yang beliau kerjakan adalah mengabsen satu-persatu seluruh peserta training. Setelah beliau mencoba kenal dengan semuanya baru beliau berbicara.
Beberapa hal yang disampaikan adalah mengenai program kesehatan di Jawa Barat, menurut beliau program yang ada saat ini cenderung jalan ditempat. Semua bidang di bawah dinas kesehatan berjalan seadanya karena dukungan dana yang tidak mencukupi. Akhirnya beliau mengambil ide agar dinas kesehatan menetapkan satu prioritas yang utama agar masalah tersebut diselesaikan segera.Sementara permasalahan lain pun terus diselesaikan walau tidak optimal. Anggaran APBD pun nantinya akan dibagikan bukan karena hubungan pertemanan, kedekatan tapi akan disayembarakan. Siapapun orang atau lembaga yang mempunyai strategi jitu untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan di Jawa Barat akan mendapat porsi dana yang besar. Jika tidak memiliki program yang baik maka tidak akan mendapat porsi dana APBD. Saat itu muncul pemikiran agar masalah yang akan fokus dikerjakan adalah mengatasi penyakit kusta.
Hal lain yang beliau sampaikan adalah bahwa program-program pemerintah Jawa Barat khususnya bidang kesehatan sebenarnya sudah baik, permasalahannya adalah kualitas orang - orang yang menjalankan program itu yang bermasalah. Akhirnya beliau menekankan aspek spiritual yang perlu dibenahi. Beliau berkata bahwa profesi kesehatan adalah profesi yang ilahiyah. Artinya apa yang menjadi profesi tenaga kesehatan adalah merupakan salah satu dari kemampuan yang Allah miliki. Menyembuhkan yang sakit itu merupakan kekuasaan Allah. Lewat tangan tenaga kesehatan itulah Allah membuktikan kekuasaannya. Dr. Hanny juga mengajak kita semua untuk berfikir zero mind. Saya kurang menangkap apa maksud beliau tapi intinya beliau mengajak kita untuk merenung dan berfikir siapa kita. Bahwa manusia hidup di bumi ini pada akhirnya akan menjadi tiga bagian, satu bagian menjadi ruh untuk menghadap kepada Allah dan dimintakan pertanggungjawabannya, satu bagian adalah amal sholeh kita yang akan menemani pada hisab nanti dan sebagian lagi akan habis menjadi tulang dan dimakan cacing tanah dan hewan tanah lainnya. Artinya bila kita sudah zero mind seperti itu, tidak akan ada lagi program yang gagal, tidak ada lagi orang yang berprofesi kesehatan itu bekerja karena orientasi uang. Tapi mereka akan berfikir dan bekerja bagaimana caranya saya dapat mencurahkan semua ilmu dan tenaga saya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Jawa Barat khususnya. Saat ini komersialisasi kesehatan sudah menjadi hal yang biasa, semakin banyak dokter ahli yang bermunculan tidak serta merta meninggikan derajat kesehatan masyarakat. Satu hal yang paling mudah untuk dilihat yaitu penyakit TBC, dari dulu sampai sekarang masih saja menjadi pembunuh manusia, yang saai ini menempati posisi ketiga. Anehnya lagi kata beliau, orang yang peduli dengan masalah TBC ini bukan orang Indonesia sendiri tapi malah orang asing. Yang entah dengan motivasi apa mereka mau mengeluarkan dana besar untuk membantu menuntaskan masalah TBC ini. Justru masyarakat Indonesia yang tinggal menjalankan programnya malah masih bermasalah. It’s about spiritual quotient









