Akhirnya pilihan sulitnya si duda menular juga kesaya. Permasalahannya ternyata tidak hanya di level rumah tangganya saja tapi ternyata merambah dunia pekerjaan. Karena perbuatannya itu, direksi terpaksa mengambil jalan yang terbaik bagi semuanya yaitu PHK. Pokoknya semua musibah ini datang kepadanya secara beruntun. Sudah tertipu sama istri pertama, diputusin sama calon istri yang kedua, hutang yang banyak gara-gara tertipu istri pertama, nama jelek yang ditinggalkan di rumah sakit dan terakhir PHK. Satu hal lain yang membuat saya sedih adalah dengan titel haji yang bersandar di depan namanya, tidak membuat berkah dari tanah suci melekat dalam perjalanan hidupnya. Ini mungkin yang dikatakan haji tidak mabrur.Kalau defence mechanism (mekanisme pertahanan diri) orang itu buruk bisa-bisa terjadi hubungan singkat di jaringan otaknya yang membuat orang ini jadi gila. (Ampuni dan lindungi dia Ya Allah, mudah- mudahan ini karena kekurangpahaman dia tentang islam).Karena saya tahu betul perjalanan hidupnya yang mengenaskan (walaupun akibat kebodohan dia sendiri.red), saya pun sebagai pemegang keputusan terakhir jadi ikut bingung. Apakah saya tega untuk memberikan musibah lagi kepadanya setelah serentetan musibah datang? atau saya harus menunda keputusan PHK ini hanya sebatas agar dia bisa bernafas sebentar dan tidak jatuh terpuruk terlalu dalam. Tapi…saya tidak boleh bermain hati dalam hal ini. Saya harus berfikir jernih dan logis untuk menyikapinya. Akhirnya sayapun menyetujui untuk mengeluarkan surat PHK dengan tidak hormat secepat mungkin. Walaupun akhirnya saya minta tolong bu Wadir untuk menyampaikan ke orang yang bersangkutan. Tapi anehnya waktu saya ada di sana saat penyerahan surat, perasaan kasihan saya tiba-tiba hilang, yang muncul sisi saya yang lain , yang tegas dan tanpa kompromi. Koq bisa ya? sudah jelas surat itu keluar atas keputusan rapat direksi, masih aja ada keinginan dari dia untuk diampuni. Mungkin hal itu yang buat saya mangkel, berarti dia tidak menghargai direksi dalam mengambil keputusan. Ya sudah, it means dia tidak menghargai manajemen, satu hal yang justru menguatkan niat saya to kick him out. Akhirnya saya akhiri saja cerita bersambung ini, mudah-mudahan jadi pengalaman buat kita semua.
Memecat orang (Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)) adalah salah satu tindakan yang legal tapi sangat saya benci. Sama mungkin dengan sebuah pernyataan dari Nabi tentang perceraian, bahwa hal itu adalah salah satu pekerjaan yang halal tapi sangat dibenci oleh Allah. Bingung kan? Sejak bulan April 2008 sudah 2 orang yang saya putuskan tali rezekinya di rumah sakit ini akibat kelalaian mereka yang sulit untuk ditoleransi. Sementara kepemimpinan sebelum saya sudah 4 orang yang mengalami PHK dalam kurun waktu 3 tahun. Saat itu hati dan otak saya terus berperang untuk memutuskan sebuah hal yang bisa mengubah arah hidup seseorang. Akhirnya sayapun harus berkonsultasi dengan direktur PT dan juga banyak meminta pertimbangan di level direksi. Akhirnya memang hati saya harus mengalah untuk menegakkan sesuatu yang lebih baik. Life is hard multiple choice. Ternyata memecat orang itu memang tidak enak.








