Tadi sore dr. Maggie SpOT mampir ke UGD RS AMC waktu saya jaga. Beliau cerita ada pasien laki-laki,26 tahun dengan keluhan lengan kirinya tidak bisa digerakkan,katanya sendi bahunya lepas.Diagnosa beliau adalah neglected left shoulder dislocation. Karena jauh dari fasilitas kesehatan akhirnya pasien mengandalkan pengobatan tradisional. Akhirnya terpending selama 1,5 bulan..bayangkan waktu yang cukup lama untuk membiarkan hal ini terjadi. Masalahnya adalah saat ini perbaikan sendinya tidak bisa dengan cara close reduction tapi sudah harus open reduction. Jaringan kulit hingga otot harus dibuka agar visualnya lebih baik dan diperbaiki dalam kondisi seperti itu, setelah kembali pada mangkuknya baru ditutup lagi daerah operasinya. Hal simpel yang sebetulnya bisa diperbaiki dengan cara lebih mudah akhirnya harus melalui pisau bedah. Repotkan..? belum dengan resiko operasi yang harus dihadapi. Sayang kan fungsi tangan kirinya jadi terganggu yang otomatis mengurangi nilai produktivitas kerjanya. Setelah berkonsultasi akhirnya si pasien berfikir-fikir dulu. Hello everyone…akan kah kesia-siaan terus kita kerjakan seperti ini…? Eh satu lagi prestasi dokter ortopedi RS AMC, waktu itu ada suami perawat yang patah tulang di neck radius kanan, menurut dokternya hal ini susah kalau diperbaiki dengan cara open reduction. Harusnya tindakan close reduction dibantu dengan C-ARM XRay, tapi berhubung RS AMC tidak punya akhirnya dengan mengandalkan pengalaman dan keterampilan, dr. Maggie berhasil melakukan tindakan close reduction dengan baik sama baiknya dengan menggunakan C-ARM
Another case between dukun tulang vs orthopaedics
Author: drQ // Category: Daily Activities, Spiritual, medis
Kemarin saya kedatangan pasien lagi ke UGD RS AMC, wanita, 29 tahun, dengan diagnosa open fracture tibia et fibula dextra 1/3 distal displaced fragmented . Masalahnya adalah dia sudah mendapat luka patah tulang itu dari hari senin, jadi dihitung-hitung sudah 4 hari. Sang suami bercerita kepada saya.Pada awalnya sang istri di bawa ke RSHS karena beberapa waktu lalu salah seorang temannya di bawa ke sana saat patah tulang. Kemudian karena merasa mendapatkan pelayanan yang lama disana akhirnya dengan diberi sasus dari kiri kanan akhirnya pasien dibawa ke dukun tulang. Di sana pasien hanya di bungkus kassa dan kapas kemudian diimobilisasi dengan spalk kecil dan ditutup dengan elastic verband. Kemudian ketika sampai di UGD RS AMC saya bertanya ke si Bapak, beliau bilang katanya lagi panik jadi tidak sempat berfikir panjang. Setelah 4 hari baru setelah mendapat dorongan dari pihak perusahaan bekerja untuk dilakukan tindakan medis yang baik, baru si bapak mau dirawat di RS AMC Cileunyi. Akhirnya kami pun merawat si ibu dengan pemberian antibiotik dan analgetik setelah itu melihat respon dari pengobatan untuk diputuskan kapan akan dilakukan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). Sambil menjalankan perawatan di UGD, si Bapak pun bertanya ke saya tentang dukun tulang. Saya hanya berkata asal patahnya sederhana, tertutup (tidak ada luka sobek), daerahnya pun di tulang panjang itu tidak perlu dibawa kemana-mana, asal mau istirahat dan imobilisasi pasti tulang akan menyambung (union). Masalahnya apakah alignmentnya baik atau tidak? oleh karena itu serahkanlah pada ahlinya yaitu dokter spesialis ortopedi dan traumatologi (dr. SpOT). Saya teringat hadist yang bunyinya begini “Apabila sesuatu urusan itu diserahkan bukan kepada ahlinya, maka nantikanlah kehancuran” - Hadith riwayat al-Bukhari.
Sore ini saya kedatangan pasien bayi usia 3 hari dalam kondisi pucat, mottled skin dan sesak nafas berat. Bayi diantar oleh sang nenek dan bidan di dekat rumahnya. Menurut bidan, saat si Ibu kontrol post partum dia masih melihat bayi itu baik-baik saja, tapi setengah jam kemudian si bayi tampak sesak dan pucat. Langsung saja anak itu dibawa ke UGD RS AMC. Dugaan saya, paru-parunya kemasukan susu yang diberikan via sendok atau si bayi muntah tapi tidak terperhatikan oleh yang mengasuhnya sehingga cairan muntahnya masuk ke saluran pernafasan.Setelah dilakukan ini itu..sampai saya dan teman-teman stress karena akses venanya susah. Setelah berhasil terpasang IV catheter,dimasukanlah antibiotik dan lain-lain.Selama prosess observasi ternyata kondisinya memburuk. Sampai akhirnya nafas si bayi agonal sehingga harus diintubasi karena respiratory failure dan harus dirujuk ke NICU karena saat ini di rumah sakit ini belum tersedia. Tetapi setelah ditelfon rumah sakitnya, pesan pertama yang keluar adalah harus membayar uang DP about 10 juta rupiah. Setelah saya lakukan informed consent dari awal sampai akhir,kontan saja orang tau bayi tersebut langsung shock. Akhirnya hanya bisa berkata, “Dok, maksimalkan saja disini, kalo Tuhan berkehendak lain ya bagaimana lagi.” Akhirnya bayi itu menghembuskan nafas terakhir setelah resusitasi dihentikan….
Read more…
Kemarin sore saya kedatangan pasien anak laki-laki usia 5 tahun dengan keluhan nyeri di tungkai bawah kiri karena tertabrak motor. Pasien datang dalam keadaan sadar dan setelah dilakukan pemeriksaan fisik ternyata hanya ditemukan luka ekskoriasi di parietal sinistra dan nyeri di daerah tibia kiri 1/3 distal. Setelah diberikan perawatan luka akhirnya dilakukan pemeriksaan penunjang radiologi untuk mengetahui lebih lanjut kondisi kaki kirinya tersebut.
Hasil xray menunjukkan ada garis fraktur di daerah 1/3 distal tibia sinistra. Setelah dilakukan informed consent kepada keluarga pasien akhirnya disepakati untuk dilakukan casting di daerah fraktur tersebut. Keluarga pasien sudah khawatir kalau penatalaksanaannya harus dilakukan dimeja operasi.Berhubung dokter spesialis ortopedinya sedang melakukan operasi, akhirnya ada penundaan casting hingga 2 jam lebih. Keluarga pasienpun setuju untuk menunggu hingga operasi selesai di UGD RS AMC. Tak lama setelah itu datanglah 3 orang yang masih famili dari pasien tersebut. Dari kejauhan tampak mereka melakukan pembicaraan yang serius. Akhirnya perwakilan dari mereka menghampiri saya, dan mereka berkata “Dok, maaf nampaknya pasien ini mau saya bawa pulang karena mau saya bawa ke dukun tulang.”, lalu saya menimpali begini “Pak, kenapa dibawa ke dukun tulang ?” jawabnya “Kemarin saudara saya dibawa ke dukun tulang, akhirnya bisa sembuh dengan baik. Jadi saya mau bawa anak itu ke dukun itu biar sembuh.” Saya cuma bisa tersenyum dan meminta agar perwakilan keluarganya mengisi surat keterangan untuk pulang paksa. Akhirnya pasien itupun melenggang keluar dengan tenangnya. Setelah operasi selesai, dr. Maggie SpOT pun bertanya “Mana pasiennya?”, saya jawab “ke bengkel dok..”. Beliaupun hanya bisa tersenyum
Permasalahannya adalah ternyate pengguna dukun tulang tidak hanya masyarakat awam, tapi seorang tenaga kesehatan selevel dokter pun masih ada yang menggunakan jasa dukun tulang. Bahkan lebih parahnya lagi ada pasien yang di”rujuk” ke dukun tulang dari sebuah rumah sakit dengan menggunakan ambulans. Sedihkan…? Apa kata dunia?
Besok pagi, ada acara pelayanan Metode Operatif Wanita (MOW) dan Metode Operatif Pria (MOP), yang mana keduanya adalah merupakan bagian dari pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB). Rencananya akan diikuti oleh 150 orang peserta MOW dan 50 orang peserta MOP. Acara ini merupakan acara kali kedua yang pernah dilaksanakan oleh RS AMC di tahun 2008 ini.
Acara pada kali ini juga masih diselenggarakan dengan gratis alias tidak bayar. Hal ini disebabkan karena metode kontrasepsi yang lain masih dianggap tidak efisien terutama dari segi pembiayaan. Mau beli kondom, pil KB, IUD harus keluar uang, belum berfikir mengenai efek sampingnya.Oleh karena itu bagi ibu-ibu yang sudah paruh baya, atau sudah memiliki anak minimal tiga orang banyak yang tertarik untuk mengikuti acara ini. Namun begitu efek samping dari operasi MOW dan MOP ini pun ada. Kemarin saja ada 3 orang wanita pasca operasi yang mual dan muntah akibat efek obat biusnya. Tapi itu tidak menjadi masalah karena selalu saja ada pasien yang demikian. Bukan karena MOW atau MOPnya tapi karena anestesinya.









